Tampilkan postingan dengan label Motor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motor. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Januari 2011

Memilih Lampu Halogen (product review)




Lampu utama (headlight) merupakan komponen vital pada mobil atau motor, khususnya pada saat berkendara malam hari. Kualitas cahaya yang dihasilkan untuk menyinari jalan berpengaruh terhadap respon dan refleks pengemudi. Kendala lain seperti misalnya cuaca buruk (hujan deras, kabut tebal) menurunkan kemampuan kerja headlight.
Kualitas penyinaran suatu headlight dipengaruhi beberapa faktor, antara lain:
  • Desain Unit headlight (Reflektor / Lens projector)
  • Sistem Pelistrikan.
  • Kualitas / jenis lampu (headlamp)
Kita tidak bisa berbuat banyak untuk mengoptimalkan Desain Unit Headlight, kecuali membersihkannya apabila kaca headlight, reflektor / lensa projector terlihat kotor.
Untuk sistem pelistrikan, dapat kita optimalkan dengan cara menambahkan sistem Relay-Set atau headlight booster sehingga daya yang disalurkan ke lampu menjadi besar dan cahaya lampu menjadi lebih terang. Selain itu, dengan menambahkan sistem Relay-Set, dimungkinkan untuk menggunakan lampu yang berdaya lebih besar.
Untuk memilih jenis lampu mana yang baik kita gunakan, kita perlu menyimak sedikit tentang keterbatasan mata kita saat malam hari dan siang hari. Diperlukan lampu yang memiliki minimal sedikit cahaya agak berwarna kuning pada malam hari agar dapat melihat dan bereaksi lebih baik saat berkendara. Itu sebabnya untuk keperluan sport / rally, diperlukan lampu yang ada kandungan warna kuning.

Kita bisa menemukan banyak sekali alternatif lampu halogen di toko-toko aksesoris mobil/motor… Pilih yang mana ya?

Saya Perlu Pilih Lampu yang Bagaimana?


Menyimak bagan pada gambar di atas, silahkan pilih apa yang menjadi tujuan utama kita mengganti/memilih lampu.
Saya mendapatkan kesempatan untuk mencoba beberapa produk lampu (headlamp) yang diproduksi dengan merek RING.
Produk Ring ini bermarkas di Inggris.

Setiap produk lampu merek RING memenuhi standar ISO9001 telah lolos uji kualitas antara lain:
1. Luminosity & Colour Test: yaitu pengujian terhadap pancaran dan warna cahaya hingga memenuhi standard untuk setiap lampu yang diproduksi.
2. Life Testing
3. Lamp Dimensions and Filament Positions: Toleransi atas setiap pemasangan komponen filament dan pencetakan bola kaca dijaga agar tidak berpengaruh terhadap distorsi cahaya yang dapat ditimbulkan. Jadi Akurasi produksi sangat menentukan.
4. Vibration Testing: setiap produk diuji agar konstruksi komponen lampu tahan terhadap getaran hingga level standard tertentu.
Yang menarik adalah, product-range merek RING ini mendukung kepentingan pada bagan di atas,.. yaitu ada produk yang diarahkan untuk kepentingan Performance/Safety, dan ada juga yang diarahkan untuk kepentingan Styling (penampilan).
Saya coba test produk RING ini pada mobil Honda Stream dengan model lampu H4.
[ www.saft7.com - automotive tips and sharing ]

RING ArcticWhite


Masuk kategori Styling Lamp
Pada test memperlihatkan cahaya yang dihasilkan cukup baik untuk ukuran daya standard (60/55w), cahaya terlihat berwarna putih. Pancaran cahaya terlihat baik penyebarannya, sehingga nyaman digunakan untuk pemakaian sehari-hari.
Karena dayanya standard, lampu ini tidak memerlukan modifikasi / penambahan Relay-Set pada sistem pelistrikan yang ada.



.
[ www.saft7.com - automotive tips and sharing ]
.

RING SportzBlue


Masuk kategori Styling Lamp
Pada saat test, saya melihat cahaya yang dihasilkan cukup terang, hal ini disebabkan oleh daya lampu tersebut cukup besar yaitu 100/80w. Cahaya yang dihasilkan berwarna putih. Walaupun kaca lampu berlapis coating biru, namun cahaya yang terlihat tidak terlalu biru, lebih banyak ke arah warna putih.
Karena dayanya cukup besar,lampu ini akan lebih baik apabila dibantu dengan modifikasi / penambahan Relay-Set pada sistem pelistrikan yang ada.



RING UltraXenon


Masuk kategori Performance/Safety Lamp
Saya melihat cahaya yang dihasilkan sangat baik untuk ukuran daya standard (60/55w), cahaya terlihat berwarna putih. Pancaran cahaya terlihat baik penyebarannya, sehingga sangat nyaman digunakan untuk pemakaian sehari-hari sekalipun dalam cuaca buruk.
Karena dayanya standard, lampu ini tidak memerlukan modifikasi / penambahan Relay-Set pada sistem pelistrikan yang ada.



RING RallySport


Masuk kategori Performance/Safety Lamp
Cahaya yang dihasilkan sangat terang, karena daya lampu yang sangat besar yaitu 130/90w.
Lampu ini tidak bijaksana apabila digunakan untuk berkendara sehari-hari, karena akan dapat mengganggu pengendara lain karena cahaya yang dihasilkan dapat menyilaukan.
Karena dayanya cukup besar,lampu ini akan lebih baik apabila dibantu dengan modifikasi / penambahan Relay-Set pada sistem pelistrikan yang ada.



RING XenonPlus


Masuk kategori Performance/Safety Lamp
Dari hasil test, terlihat cahaya yang dihasilkan cukup baik untuk ukuran daya standard (60/55w), cahaya terlihat berwarna putih. Pancaran cahaya terlihat baik penyebarannya, sehingga nyaman digunakan untuk pemakaian sehari-hari.
Karena dayanya standard, lampu ini tidak memerlukan modifikasi / penambahan Relay-Set pada sistem pelistrikan yang ada.



RING IceBlue


Masuk kategori Performance/Safety Lamp
Hasil test memperlihatkan cahaya yang dihasilkan kurang baik untuk ukuran daya standard (60/55w), cahaya terlihat berwarna putih kebiruan. Pancaran cahaya terlihat kurang baik penyebarannya, sehingga akan dirasa kurang nyaman apabila digunakan untuk pemakaian sehari-hari, apalagi saat cuaca buruk.
Karena dayanya standard, lampu ini tidak memerlukan modifikasi / penambahan Relay-Set pada sistem pelistrikan yang ada.



KESIMPULAN dan REKOMENDASI



  • Dari hasil test seluruh product-range RING, saya menilai bahwa ada 2 produk yang menghasilkan kualitas cahaya yang baik sekali, yaitu untuk produk Ring RallySport 130/90w dan Ring UltraXenon 60/55w.



    • Dengan membandingkan sekali lagi pancaran cahaya dan jika dibandingkan dengan Daya lampu, maka yang paling menarik adalah Ring UltraXenon 60/55w. Dikarenakan dengan daya standard, terang yang dihasilkan bisa mendekati Ring RallySport yang berdaya besar.
    • Perlu diingat, pemakaian lampu berdaya besar, umumnya lampu lebih banyak mengeluarkan radiasi panas. Teknologi UV Cut, yang dipakai oleh produk RING mampu meredam radiasi panas tersebut sehingga cukup aman untuk reflektor yang terbuat dari plastik. Namun sebaiknya kita tetap perlu mengamati apakah lampu yang kita pilih cukup aman bagi reflektor.
    • Kondisi konektor / socket lampu juga menentukan kualitas penyaluran daya ke lampu. Socket yang kurang baik bisa menyebabkan panas pada konektor lampu dan lebih parah akan membuat socket itu sendiri meleleh dan dapat merusak rumah lampu atau reflektor.
    • Modifikasi pelistrikan lampu dengan menambahkan Relay-Set juga perlu memperhatikan kualitas kabel pada produk Relay-Set tersebut, kemudian kualitas socket lampu dan socket relay hingga socket sikringnya. Banyak produk Relay-Set yang siap pasang sesuai dengan jenis/model mobil.

    Macet, Boros BBM




    Kemacetan lalu-lintas terjadi di mana-mana, apalagi kota-kota besar. Bertambahnya kendaraan di jalan tidak sebanding dengan ketersediaan dan kualitas jalan itu sendiri. Jadi tidak hanya jumlah atau lebar jalan yang kurang, tetapi juga kondisi jalan itu sendiri juga berpengaruh terhadap kelancaran lalu-lintas. Jalan yang berlubang, membuat kendaraan harus melalui dengan perlahan, sehingga menyebabkan kemacetan yang panjang hanya karena lubang di jalan.
    Pemerintah Daerah juga berusaha mengatur pola waktu penggunaan jalan raya, seperti contohnya di Jakarta, seluruh sekolah dihimbau untuk memajukan jam masuk sekolah menjadi pukul 06.30 pagi. Sehingga porsi penggunaan jalan bisa teregulasi, hasilnya memang terjadi pengurangan kemacetan pada daerah-daerah yang biasanya macet di sekitar jam 07-08 pagi.
    Melalui artikel ini saya mencoba berbagi pengalaman mengenai dampak kemacetan lalu-lintas terhadap konsumsi BBM pada kendaraan kita, berlaku untuk mobil maupun motor. Jika macet, Konsumsi BBM akan boros. Mengapa?

    STOP & GO, Boros BBM..

    Ibarat kita mendorong mobil yang mogok,.. mendorong.. kemudian berhenti.. kemudian mendorong lagi.. berhenti lagi.. mendorong lagi.. Tentunya akan lebih banyak mengeluarkan tenaga dan keringat, kita akan sangat kehausan.
    Beda dengan mendorong mobil yang mogok.. hingga si mobil bergerak. kita terus mendorong… hingga kemudian beberapa saat mesin mobil hidup. Tenaga kita tidak banyak terkuras.
    Kurang lebih sama analoginya dengan mobil/motor kita saat melalui jalan yang macet.
    Mobil/motor memerlukan banyak energi untuk mulai bergerak dari kondisi diam. Jauh lebih banyak energi yang diperlukan daripada untuk menambah kecepatan saat sudah bergerak. Dalam hal ini energi didapat dari bahan bakar / BBM.
    Jadi semakin banyak Stop and Go, konsumsi bensin akan lebih boros, ketimbang melalui jalan yang lancar.

    ANALISA RUTE HARIAN

    (dibantu unit BlueTooth GPS Logger – Holux M1000C sebagai pencatat aktifitas perjalanan)
    Gambar di bawah ini adalah rute perjalanan saya dari rumah ke kantor..

    Garis Rute Warna HIJAU
    Rumah > Kantor = 07.40 – 08.20 (40 menitan)
    Rute : Legoso (Ciputat) – Ciputat Raya – Pondok Pinang – Pondok Indah – Marga Guna – Hidup Baru – Fatmawati Raya
    Garis Rute Warna BIRU
    Kantor > Rumah = 18.00 – 18.50 (50 menitan)
    Rute : Fatmawati Raya – Arteri TB Simatupang – Terminal Lebak Bulus – Ciputat Raya – Legoso (Ciputat)
    BERANGKAT KE KANTOR

    Dari grafik kecepatan di atas, terlihat bahwa saya mengalami banyak Stop and Go di sekitar Legoso akibat banyaknya polisi tidur, dan juga di daerah setelah Pondok Indah Mall, karena jalan Marga Guna yang sempit dan juga jalan Hidup Baru.
    PULANG DARI KANTOR

    Melihat grafik di atas, 15 menit lebih waktu yang habis untuk macet dari kantor sampai perempatan ITC Dutamas Fatmawati – Haji Nawi (hanya 400meter saja), Setelah perempatan itu bisa sedikit ngebut, hingga terhambat lagi di sekitar Cilandak 10 mendekati Perempatan Fatmawati – TB Simatupang, Macet lagi memasuki depan terminal Lebak Bulus dan Ciputat Raya… dan kembali lagi.. di Legoso bertemu para polisi tidur.

    KONSUMSI BBM

    Mobil saya termasuk boros, untuk kondisi di atas, konsumsi BBM nya hingga 1Liter untuk 5km perjalanan.
    Bahkan pernah saat lagi musim macet, bisa tembus ke 1Liter untuk 3km !!

    SEDIKIT STOP AND GO, HEMAT BBM

    Saya mencoba melakukan perjalanan dengan rute :
    Ciputat Raya – Toll TB Simatupang – Toll Jagorawi (menuju ciawi) – Macet 40menit saat keluar Pintu Toll Ciawi – puter balik kembali ke Jakarta – Toll Jagorawi – Toll Dalam Kota – Kpt.Tendean – Wijaya – ITC Dutamas – Fatmawati Raya – Cirendeu Raya – Legoso (rumah).
    Dengan kondisi sedikit terjadi Stop and Go, konsumsi BBM menjadi sangat irit, didapat sekitar 1Liter untuk 11km !

    SOLUSI:

    Dari tulisan di atas, di dapat kesimpulan bahwa sebisa mungkin kita hindari terjadinya Stop and Go. Sulit memang untuk mengelak dari kenyataan tersebut. Namun ada beberapa tips yang bisa membantu menghemat bahan bakar kendaraan kita.
    1. Selalu Pantau Konsumsi BBM
    Setiap mengisi bensin full tank, kita bisa mereset tripmeter pada dashboard agar terukur berapa konsumsi BBM. Apakah minggu ini boros atau lebih irit? dan seterusnya. Tips menghitung konsumsi bbm bisa dibaca di sini
    2. Injak Pedal Rem Seperlunya Saja
    Manfaatkan gaya luncur mobil/motor hingga diperlukan untuk berhenti barulah kita injak pedal rem. Hal ini cukup membantu untuk menghemat bahan bakar, karena saat kendaraan di depan yang tadinya berhenti, kemudian jalan, kita tidak sampai berhenti total, sehingga mesin tidak terlalu berat untuk mendorong mobil/motor ber akselerasi.
    3. Selalu Waspada
    Untuk menerapkan point nomor dua di atas, mengharuskan kita selalu waspada dengan kondisi di sekitar kendaraan kita agar tidak terjadi kecelakaan. Patuhi rambu-rambu lalu lintas termasuk lampu lalu lintas. Keasikan meluncur, hingga menerobos lampu merah, bisa fatal akibatnya.
    4. Seakan Naik Sepeda
    Saat akan melalui suatu tanjakan, sebisa mungkin tingkatkan kecepatan, saat di tanjakan, biarkan mobil/motor meluncur hingga perlahan kecepatan akan berkurang, bila perlu barulah tekan gas lagi untuk menyelesaikan rute tanjakan tersebut. Dengan cara demikian, mengurangi konsumsi BBM sebab mesin tidak dipaksa mendorong mobil dengan kondisi beban yang lebih berat (jalan menanjak).
    5. Kondisi Kendaraan yang Prima
    Tekanan ban yang tepat, Mesin selalu di Tune-Up secara berkala, Menggunakan bensin dengan oktan yang sesuai dengan kebutuhan mesin, membantu menghemat konsumsi BBM.
    6. Rencanakan Rute Perjalanan
    Rencanakan Rute Perjalanan perlu dilakukan khususnya jika kita akan bepergian ke beberapa tempat. Juga menentukan jalan mana yang akan dilalui, untuk dipilih jalan yang tidak macet.
    7. Rencanakan Waktu Perjalanan
    Bepergian di waktu yang padat, misalnya jam pergi dan pulang kantor akan memperbesar kemungkinan kita berhadapan dengan macet dan stop and go.
    8. Kaca Pintu Tertutup Rapat
    Dengan menutup rapat kaca pintu, akan mengurangi hambatan angin selama mobil bergerak / meluncur, dengan demikian akan mengurangi beban kerja mesin.
    9. Tinggalkan Barang yang Tidak Perlu
    Kurangi berat kendaraan dengan meninggalkan barang-barang yang tidak perlu di bagasi mobil.
    10. Akselerasi Halus
    Lakukan akselerasi secara perlahan / halus (tidak langsung gaspol apalagi hingga spin / burnout)
    12. Pilih Kendaraan Hemat BBM
    Jika berencana untuk membeli mobil/motor, pilihlah yang hemat BBM dan sesuaikan dengan kebutuhan.
    13. Selalu Uji Emisi
    Jangan lupa untuk selalu Uji Emisi, dan setel hingga didapat hasil emisi yang terbaik, yaitu nilai CO: 1%-1.4% dan nilai Lambda 1.000 – 1.050 untuk hasil optimal.

    KESIMPULAN AKHIR

    1. Kemacetan Lalu-Lintas, membuat konsumsi BBM menjadi tinggi (boros)
    2. Polisi Tidur di perumahan atau jalan umum, turut membuat Konsumsi BBM menjadi tinggi
    3. Perlu menjaga kondisi kendaraan agar tetap prima
    4. Mengendarai mobil/motor dengan sabar, tidak agresif
    5. Memilih kendaraan yang hemat BBM.
    [ www.saft7.com ]
    Riset kecil di atas menggunakan GPS Logger di bawah ini

    Holux M-1200E Bluetooth & Data Logger
    . Log tracks, distance, speed and altitude
    . Integrates geo-tagged photos with tracks to build personal vivid digital album
    . Easy one-touch button to mark POI
    . Ultra-compact and lightweight; weighs only 32 grams for pocket or bag to carry
    . High sensitivity and high accuracy with DGPS technology
    . Intuitive 5-color LED status display for GPS positioning, battery status, and POI
    . Built in MTK MT3329 Low power consumption GPS chipset.
    . 4M Bytes Flash memory for 200,000 log data recording.
    . Superior sensitivity up to -165 dBm.
    . Built-in WAAS/ EGNPS Demodulator without additional any hardware.
    . Compatible with Bluetooth Serial Port Profile (SPP) completely.
    . Small, sleek, and lightweight design easily fits in your hand.

    Batas Ketebalan Disc Pad / Brake Shoe (sepatu rem).



      
    Untuk kendaraan yang menggunakan rem Disc, perlu memperhatikan bahwa batas minimum ketebalan kampas/pad adalah hanya 2mm saja.
    Untuk kendaraan yang menggunakan rem Tromol, batas minimum ketebalan kampas/pad sepatu remnya adalah 1mm.

    Urusan rem jangan diremehkan…. taruhannya kalo gak nyawa orang lain ya nyawa kita sendiri atau keluarga kita sendiri… DUH!!

    Lampu Sumber Celaka 2 (tertibkan dong!)



    Semakin hari, semakin banyak yang menggunakan lampu kendaraan (mobil maupun motor) yang menyilaukan.
    Umumnya kendaraan yang lampunya menyilaukan tersebut menggunakan lampu HID atau lampu berdaya besar.
    Besar daya untuk lampu standar kendaraan umumnya adalah 55 watt untuk mobil dan 35watt untuk motor. Mungkin karena dirasa kurang terang, pemilik kendaraan mengganti lampu tersebut dengan daya yang lebih besar. Umumnya untuk mobil diganti dengan lampu berdaya 90watt bahkan 110watt untuk low-beam dan 100 watt – 130watt untuk high-beam.
    Seperti yang diulas pada artikel sebelumnya “Lampu Sumber Celaka”, lampu akan menyilaukan pengendara lain di depannya apabila “cut-off” cahaya berada terlalu tinggi atau bahkan tidak ada cut-off cahaya sama sekali sehingga menyilaukan, karena mata pengendara lain akan terkena cahaya langsung dari reflektor lampu.
    .
    [ www.saft7.com - automotive tips and sharing ]
    .

    CAHAYA YANG TIDAK MENYILAUKAN

    Cahaya lampu mobil yang melintas dari arah berseberangan tidak menyilaukan..

    .

    TIPS:

    Cara mudah untuk melihat apakah lampu mobil / motor tidak menyilaukan pengendara lain, yaitu saat kendaraan tersebut berada di belakang kendaraan yang tinggi (minibus, metromini, mobil box, dsb). Akan terlihat Cut-Off Cahaya.. yaitu bagian bawah terang, sementara terlihat jelas pemotongan cahaya sehingga bagian atas terlihat gelap.


    [ www.saft7.com - automotive tips and sharing ]

    CAHAYA YANG MENYILAUKAN

    Cahaya yang menyilaukan sudah terlihat dari jauh hingga benar-benar menyilaukan saat mobil tersebut mendekat.
    Sering terjadi pengemudi yang terkena silau cahaya itu menjadi tidak bisa melihat benda2 di sekitarnya, sangat membahayakan orang lain.

    .

    TIPS:

    Cara mudah untuk melihat apakah lampu mobil / motor menyilaukan pengendara lain, yaitu saat kendaraan tersebut berada di belakang kendaraan yang tinggi (minibus, metromini, mobil box, dsb). Cahaya lampu akan terlihat menyinari seluruh badan belakang kendaraan tersebut di depannya. Cahaya menyebar ke mana-mana karena tidak ada Cut-Off Cahaya.

    .
    .

    AJAKAN / HIMBAUAN

    Untuk rekan-rekan yang kebetulan lampu kendaraannya menyilaukan (cahaya menyebar ke mana-mana), mari perbaiki lampu tersebut, atau sebaiknya dikembalikan ke standar pabrik. Dengan peduli kepada orang lain, maka kita turut menjaga keselamatan diri kita sendiri dan lingkungan di sekitar kita dari kecelakaan lalu lintas yang tidak perlu terjadi.

    SUDAH ADA ATURANNYA ?!

    Ternyata aturannya sudah ada sejak lama, jadi masalahnya adalah pada tindakan dan penertibannya saja oleh pihak yang berwenang..
    berikut cuplikannya..
    ——-

    PP43/1993

    Pasal 74
    (1)Pengemudi kendaraan bermotor dilarang:
    a.menyalakan lampu-lampu dan/atau menggunakan lampu selain yang telah diwajibkan kecuali tidak membahayakan atau mengganggu pemakai jalan lain;
    b.menyalakan lampu utama jauh pada waktu berpapasan dengan kendaraan lain;
    c.menyalakan lampu kabut pada waktu cuaca terang;
    d.menutup lampu penunjuk arah, lampu mundur, lampu rem, lampu isyarat peringatan bahaya dan lampu tanda berhenti untuk bus sekolah;
    e.menyalakan lampu peringatan berwarna biru atau merah kecuali pengemudi kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73.

    (2)Pengemudi kendaraan bermotor wajib:
    a.menjaga agar lampu kendaraannya tetap berfungsi dan tidak menyilaukan pengemudi kendaraan lain;
    b.menyalakan lampu penunjuk arah pada waktu akan membelok atau berbalik arah;
    c.menyalakan lampu tanda berhenti bagi pengemudi bus sekolah, waktu menurunkan dan/atau menaikkan penumpang;
    d.menyalakan lampu peringatan berwarna biru bagi pengemudi kendaraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 72.
    e.menyalakan lampu peringatan berwarna kuning bagi pengemudi kendaraan bermotor
    untuk penggunaan tertentu atau yang mengangkut barang tertentu.

    Mengenal Seluk Beluk Ban Mobil dan Motor




    Kontribusi dari Hendro Buditjahjono (Spinner-Community)
    Ban adalah bagian terpenting dari sebuah kendaraan bermotor karena ban satu-satunya bagian dari kendaraan bermotor yang mempunyai kontak langsung dengan jalan. Walaupun merupakan faktor terpenting pada sebuah kendaraan bermotor, namun banyak pemilik kendaraan yang sering mengabaikannya, baik yang karena alasan ekonomi maupun keterbatasan ilmu mengenai ban yang dimiliki pengendara. Karena alasan tersebut diatas saya menulis sedikit untuk sharing kepada pengendara lain agar dalam mengemudikan kendaraannya tahu batasan yang dimiliki oleh ban yang digunakannya.
    Sedikit Flashback, mungkin sudah banyak orang tahu bahwa ban (dengan bahan karet) yang sampai sekarang digunakan ditemukan oleh DUNLOP (John Boyd Dunlop) pada tahun 1888. Perkembangan ban sampai saat ini menyempurnakan hasil penemuan DUNLOP tersebut.

    Struktur Ban

    Struktur Ban Bias dan Ban Radial

    Dari hasil pengembangan hingga saat ini struktur yang biasa digunakan oleh produsen ban adalah sbb:

    1. Tread/Telapak Ban:
    Tread/Telapak Ban adalah bagian dari ban yang kontak langsung dengan permukaaan jalan. Bahan yang digunakan tergantung dari utilitas kendaraan sehingga berpengaruh terhadap ketahanan ban, daya cengkeram dan juga dalam melakukan maneuver.
    2. Steel Belts:
    Menjaga kekokohan struktur ban dan juga menjaga keamanan dari benda-benda yang dapat menusuk permukaan ban.
    3. Spiral Layer:
    Lapisan ini berfungsi agar ban lebih tahan dan lebih mudah melakukan maneuver.
    4. Shoulder:
    Shoulder bagian yang paling tebal pada sebuah ban yang berfungsi melindungi ban dari guncangan maupun benda-benda berbahaya dari luar.
    5. Sidewall:
    Sidewall adalah bagian yang paling lentur pada sebuah ban. Faktor kenyamanan berkendara pada sebuah ban di dapat dari bagian ini.
    6. Plycord:
    Plycord adalah bagian utama sebuah ban yang melapisi bagian dalam pada sidewall dan juga bagian dalam telatak ban dari tekanan udara dari dalam ban, beban kendaraan dan juga goncangan dari luar.
    7. Bead Filler:
    Bead Filler lapisan pengisi yang membuat ban lebih tahan dan memudahkan kendaraan dalam melakukan maneuver.
    8. Bead Wires:
    Lapisan kawat yang berfungsi menahan ban tetap pada tempatnya pada velg/rim.
    9. Chafer
    Bagian yang melindungi plycord dibagian bead dari panas yang terjadi karena gesekan bagian bead dengan velg/rim.
    Dari keseluruhan Struktur ban diatas yang paling banyak mempengaruhi ketahan, maneuverability dan juga factor keiritan bahan bakar adalah PLYCORD. Dari ban yang beredar sekarang struktur plycord dapat dibagi sebagai berikut:


    1. Radial
    Struktur lapisan Plycord pada Ban Radial dari Bead dalam Ke Bead luar saling tegak lurus.
    Disamping lapisan plycord masih ada lapisan steel belts.
    2. Bias
    Lapisan untuk jenis ini plycord diletakkan secara diagonal secara bersilangan, tidak ada lapisan tambahan pada konstruksi Bias ini.

    Diantara ban Radial dan ban Bias manakah yang lebih menguntungkan pengendara?

    Secara umum ban radial lebih menguntungkan pengendara karena:
    1. Lebih Safety, karena ban lebih menapak pada permukaan jalan (bisa dilihat pada grafik, video bisa dilihat di link berikut: http://www.bridgestone.co.in/tyre/tyreknowledge/tyrevideo.htm).
    Karena lebih menapak pada permukaan jalan maka jarak pengeremanpun menjadi lebih pendek dan lebih cepat melakukan maneuver.



    .
    2. Penggunaan bahan bakar yang lebih irit

    (table dari http://www.bridgestone.co.in)
    .
    3. Lebih kokoh karena adanya lapisan steel belts

    Tube dan Tubeless

    Disamping struktur plycord yang ada struktur ban juga dibagi lagi menjadi tipe yang menggunakan ban dalam (Tube Type) dan tipe yang tidak menggunakan ban dalam (Tubeless).
    1. Tubeless
    Ban tubeless mempunyai lapisan dalam (inner liner) yang lebih kuat dari pada ban yang menggunakan ban dalam
    2. Tube Type
    Tipe ban ini menggunakan ban dalam untuk dapat digunakan.
    Kelebihan ban Tubeless :
    1. Lebih aman. Gambar dibawah memperlihatkan kenapa ban tubeless lebih tahan bocor apabila ban terkena benda tajam

    2. Lebih efisien dan ekonomis, efisien dalam konsumsi bahan bakar karena lebih ringan (tidak menggunakan ban dalam) lebih ekonomis karena tidak perlu membeli ban dalam.
    3. Lebih dingin, karena tidak ada gesekan antara ban dalam dan ban luar pada saat terjadi “Rolling Resistance”
    Banyak pertanyaan yang dilontarkan di milis-milis apakah aman ban yang menggunakan ban dalam dijadikan ban tubeless ataupun sebaliknya ban tubeless menggunakan ban dalam.
    Mari kita bahas !:
    Untuk alasan safety tidak dianjurkan ban tube dijadikan tubeless maupun ban tubeless menggunakan ban dalam.
    1. Ban Tube dijadikan tubeless:
    Perbedaan konstruksi ban Tube dan Tubeless bisa dilihat pada gambar berikut.

    Pada gambar tersebut bisa dilihat bahwa ban tubeless mempunyai inner liner yang pada ban tube lapisan ini tidak ada sama sekali. Inner liner ini lebih membuat kaku bentuk ban sehingga walaupun ban kekurangan angin bentuk ban masih sesuai dengan bentuknya dan tetap menempel pada rim.
    Apakah bisa digunakan ban tube menjadi tubeless?
    Jawabannya bisa, namun untuk alasaan safety tidak dianjurkan karena jika ban kekurangan angin bisa menyebabkan kecelakaan yang fatal bagi pengendaranya.
    2. Ban Tubeless menggunakan ban dalam
    Karena alasan tertentu banyak juga yang menggunakan ban tubeless menggunakan ban dalam. Apakah aman?
    Memang bisa ban tubeless menggunakan ban dalam, namun ini tidak dianjurkan dan tidak safety. Untuk penjelasannya bisa dilihat dalam gambar di bawah:

    Pada saat kendaraan berjalan (F) ban membawa bobot kendaraan dan pengendara (W). saat pergerakan terjadi akan timbul “Rolling Resistance” (N) yang diakibatkan dari perubahan bentuk ban dan kondisi jalan yang digunakan. Semakin besar Rolling Resistance ini akan mengakibatkan panas yang lebih besar.
    Hal inipun terjadi antara ban luar dan ban dalam yang digunakan, namun karena alasan ban tubeless mempunyai inner liner yang lebih kaku maka gesekan yang terjadi antara ban luar dan ban dalam lebih besar. Jika panas yang terjadi berlebihan maka ban dalam dapat meletus bisa fatal akibatnya

    Kesimpulan:

    Penggunaan ban tube dijadikan tubeless atau ban tubeless dengan menggunakan ban dalam jawabannya adalah bisa.
    Namun penggunaan hanya dianjurkan untuk keadaan darurat, bukan untuk digunakan harian

    Berapa ukuran ban maksimum

    Ratio maksimum lebar bibir velg : lebar tapak ban dari berbagai sumber membatasi angka antara 0.5” s/d 0.58”
    Contoh perhitungan :
    Lebar bibir velg=1.85”
    Lebar maksimum ban yang dianjurkan
    = 1.85” / 0.58
    = 3.189”
    ≈ 3.00 ~ 3.50”
    Jadi Lebar ban (konversi ke satuan mm)
    = 3.50” x 25.4mm
    = 88.9mm
    ≈ 90.0mm; atau maksimum 100mm
    Sebenarnya ukuran yang terlalu lebar maupun kekecilan bisa dilihat pada saat ban belum terpasang pada velg. Ban yang terlalu lebar akan terlihat lebih menggembung, sedangkan ban yang lebarnya terlalu kecil akan menyebabkan ban tidak rekat pada velg/rim

    Membaca Kode Ban

    1. Ukuran Ban

    Ukuran ban biasa menggunakan ukuran METRIC dan ukuran INCH.
    a. Ukuran Metric

    80 / 90 – 17
    80 = adalah lebar telapak ban dalam ukuran mm
    90 = adalah prosentase tinggi ban yang dihitung dari lebar ban
    Jadi tinggi ban = 120 x 90% = 72 mm
    17 = Ring Velg yang digunakan
    b. Ukuran Inch

    275 – 17
    275 = adalah lebar telapak dan tinggi ban dalam ukuran mm.
    17 = Ring Velg yang digunakan

    2. Tread Wear Factor


    Indikator ke ausan ban. Jika ban sudah mencapai indicator ini ban sebaiknya lekas diganti

    3. Tube/Tubeless


    Type ban menggunakan ban dalam atau tubeless

    4. Lot Number


    Lot number produksi ban 2607 artinya ban diproduksi pada minggu ke 26 (2 digit pertama) pada tahun 2007 (2 digit terakhir)

    5. Speed Symbol & Load Index


    41P
    41 = dilihat pada table pertama maksimum load yang disarankan 145kg
    P = dilihat pada table 2 batas maksimum yang disarankan 150km/jam
    .
    Index Beban dan Kecepatan yang tertera bagi kendaraan roda dua

    .
    Index Beban dan Kecepatan yang tertera bagi kendaraan roda 4 atau Lebih

    6. Rotation


    Indikator arah berputar ban semestinya

    7. Maximum Load


    Maksimum load yang dianjurkan. 160kg beban maksimum dengan tekanan ban 33Psi pada kondisi dingin